Setiap orang punya kisah cinta pertamanya masing-masing, biasanya sulit dilupakan. Bahkan ada orang yang tak juga menemukan yang baru karena masih terngiang dan berpusat pada cinta pertamanya.
Namun banyak orang belum saja tahu, bahwa cinta pertama bukanlah sesuatu yang harus sempurna.
Cinta pertama tidak harus dimiliki atau disesali.
Karena sejatinya yang pertama kali adalah pembelajaran, yang selanjutnya adalah pencarian dan penemuan. Namun bagus juga apabila cinta pertama jadi yang selamanya.
Aku melewati gedung SMA Jembatan Asa lagi. Rasa sesak di dada masih terasa saat kulihat jendela di lantai kedua bangunan itu. Itu jendela ruangan kelasku saat aku masih bersekolah disana. Kenangan itu muncul lagi.
'Kita udahan aja'
Jantungku serasa berhenti, dia memutuskanku. Dia yang selama ini selalu ada di sampingku, dia yang selalu menemaniku saat sepi. Dia yang selalu mau mengantarku kemana-mana, membuatku senang, membuatku tertawa. Kini membuat luka yang teramat dalam di hatiku.
Tanpa ada alasan, ia memutuskanku.
'Hey Fa!'
Dia bahkan tidak menoleh.
'Jangan pernah panggil aku lagi'
'Ki.. Kita tetap berteman kan?'
'Iya, jalani saja seperti kita gak pernah pacaran sebelumnya'.
Kalau kita tidak pernah pacaran, bukannya kita tidak akan pernah saling sapa? Gumamku.
Alfa adalah teman sekelasku yang aktif, dia punya karakter bandel yang kuat, selalu menjadi pusat perhatian, dan punya seribu tingkah aneh yang bisa membuatku tertawa. Dia pernah tidur telentang dengan kucing di atas perutnya, mengambil beberapa ranting daun dan melingkarkannya di kepala dan tubuhnya saat pelajaran, dan membolos hingga akhirnya dihukum.
Dia selalu tersenyum puas setelah kejahilannya diketahui guru, aku ternyata juga dibuat puas oleh senyumannya.
Hari-hari putus selalu mengingatkanku pada hari-hari ketika aku bertemu dengan Alfa.
Dia adalah tipikal laki-laki yang sangat lucu, selalu ceria, dan punya banyak rahasia. Pertama kali kukenal dia adalah saat ospek hari pertama, saat dia ditunjuk sebagai ketua kelas dan diharuskan menghapal sepuluh anak di kelasnya bersama dengan SMP asal.
Dia berkenalan denganku, dan melihatku dengan dalam. Aku sudah punya perasaan bahwa dia akan menyukaiku. Setelahnya, aku cukup banyak disukai oleh laki laki di sekolahku. Cara mereka mendekatiku juga berbeda-beda, ada yang terus memberi pesan singkat, memberikan makanan, membelikan baju bagus dan mengajakku untuk kencan. Namun semua tidak pernah aku terima. Saat kemping, Alfa tiba-tiba mengirimkan pesan untuk bertemu, sekedar foto bersama, tidak terlalu mengesankan, sungguh. Lalu beberapa waktu kemudian, ia mengirimkanku sebuah pesan ajakan untuk pergi ke minimarket dekat situ. Mungkin karena aku sudah tertarik padanya, aku bersama kedua teman perempuanku dan satu teman laki-lakinya pergi ke minimarket. Dia memberikanku senyum pertamanya, yang tak bisa kulupakan hingga hari ini.
Saat malam tiba, guru kami mengetahui ada siswa yang pergi ke minimarket dan mengumumkannya kepada semua murid. Ia memanggil nama Alfa ke depan, menyuruhnya mengaku kesalahannya. Aku merasa tidak enak, mungkin kalau bukan karena aku dia tidak akan dihukum.
Hari dan bulan berjalan, aku dan dia semakin dekat. Jika ada aku, pasti ada dia, dan jika ada dia pasti ada aku. Kami sadar, kami seperti orang yang sudah dimabuk cinta. Hari-hari di sekolah menjadi seribu kali lebih indah daripada hari biasa. Apalagi hari Kamis saat banyak pelajaran komputer, dan aku bisa duduk bersebelahan dengannya. Berbicara, tertawa dan mengerjakan tugas bersama. Dan hari-hari tanpanya menjadi suram, sangat suram mengingat aku tidak punya teman selain Alfa.
Di kantin, aku sendiri, mungkin karena biasanya ada Alfa di sekitarku aku jadi kurang punya banyak teman perempuan.
Kalau tahu begini, dari dulu bakal kutolak mentah-mentah Alfa.
Aku menusuk bakso didepanku dengan keras. Menyadari bahwa aku dilirik anak-anak lain, aku membuka handphone ku.
Dan aku kembali membaca semua pesan singkat darinya, menyesali betapa aku menyayanginya. Di status mantan pacarnya ada fotonya sedang menenggak segelas starbuck. Dia sedang minum kopi dengan mantan pacarnya.
Aku kembali menghempas napas panjang, akankah aku bisa melupakannya?
Komentar
Posting Komentar